Selasa, 12 Mei 2015

Curhat Lupus : Menikmati Sepotong Senja Termanis

Siapa coba Pus yang nggak suka senja. Senja yang terkenal sendu, romantis dan manis pastilah jadi idaman setiap penikmat nya.

Begitu sendu karena kita disuguhkan kemerahan dan siluet  sang putri ke peraduan. Begitu romantis bila dinikmati dengan secangkir kopi berteman kamu. Begitu manis ketika duduk di beranda memandangi senja sebagai penutup aktivitas hari mu.

Duh, saya mendadak ngerasa ada kupu-kupu beterbangan di perut. Geli sama kata-kata saya sendiri Pus.

Kalau kamu gimana Pus? Penikmat senja kah? atau malah kamu jadi manusia kekinian yang selalu memuja sendunya senja? Kalau saya lebih menikmati karya yang bertemakan senja Pus.

Saya suka soundtrack dari komik Grey dan Jingga Pus. Judul nya Kisah Cinta Senja Termanis. Ya Pus, benar-benar manis. Liriknya sederhana Pus, tapi ngena. Kalau kamu penasara, kamu bisa coba dengerin disini Pus. Petikan gitarnya juga syahdu Pus. Coba kalau kamu yang main. Wah, saya nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Kupu-kupu nya nggak cuman di perut. Tapi dimana-mana. 

Gondrong Pus, makanya saya langsung suka

Selain lagu saya juga suka puisi Pus. Waktu saya lagi twitteran saya lihat Sudjiwo Tejo ngeupload foto gitu Pus. Ternyata itu puisi karya Subagio Sastrowardojo. Judulnya Senja. Saya sih suka Pus.

Apalagi bagian "Saat paling baik adalah berada di kapal terbang yang menuju ke timur atau sedang tertidur di kereta api sehingga senja lekas terlewati". Sempet bikin musikalisasinya sih Pus. Tapi cuman sampai situ doang.


Nah, kalau yang terakhir ini cerpen Pus. Saya sebenernya juga baru tau beberapa hari yang lalu Pus. Setelah saya baca-baca review nya emang romantis Pus. Saya lagi mencoba berburu bukunya Pus. Judul bukunya Sepotong Senja untuk Pacarku. Dari judul nya aja udah ala-ala kan Pus.


Kalau kamu penasaran kamu bisa baca nukilannya disini. Saya suka penutupnya.

Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.

Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia. 

Pus, ternyata senja itu memang sudah jadi idola dari zaman dulu sampai searang ya. Kalau kamu gimana?

Kalau saya paling suka menikmati senja itu, duduk di salah satu bangku di sudut 0 km. Terus makan telur tusuk yang harga setusuknya 2500an. Atau kalau nggak makan cakwe yang dibeli di sekitar alun-alun utara. Abis itu ngobrol sama teman sampai magrib baru pulang.

Sederhana kan Pus?

Kadang saya berandai-andai Pus. Di dunia pararel sana kita sama-sama suka menikmati senja berdua. Sekedar dengan petikan gitar bertemankan gorengan. 


1 komentar:

unarchy mengatakan...

Seindah-indahnya senja, gelap pasti kan datang juga.

Posting Komentar